Minggu, 02 September 2007

UGM Berubah Bentuk Menjadi Perum

Gede Bayu Suparta
wenten1@yahoo.com

HARI ini, Rabu (31/3/99) Harian Bernas Yogya memuat "isu" soal "Perguruan Tinggi Negeri akan berbentuk Perum". Terlepas apakah "Perguruan Pencak Silat" masuk kategori "tinggi", saya tidak hendak membicarakan pencak silat. Namun terus terang, saya amat setuju kalau perguruan tinggi seperti UGM dapat menjadi Perusahaan Umum (Perum).

Alasannya:

1. Performa Perguruan Tinggi (PT) menjadi dapat dikontrol oleh publik.

2. Publik sebagai "konsumen" bisa meminta layanan terbaik dari PT.

3. PT memiliki kebebasan untuk mengelola semua resource yang dimilikinya, termasuk memperkuat yang sudah kuat, memperbaiki yang memang bisa diperbaiki, serta memecat yang seharusnya dipecat.:=)

4. Komplain civitas akademika (penyelenggara, dosen, karyawan plus mahasiswa) manakala sebuah sistem ataupun proses di perguruan tinggi tidak berjalan dapat di selesaikan secara lokal (Pak Rektor tidak lagi menunggu "petunjuk" Bapak Presiden).

5. Mendorong terciptanya persaingan sehat antar perguruan tinggi di semua daerah. PTN "bukan anak emas" rakyat Indonesia, melainkan PT yang biayanya paling murah tapi "bergengsi"! (???... )

6. Semua civitas akademika dapat diharapkan memiliki loyalitas karena "mereka adalah pegawai perusahaan". Bahkan dalam teori bisnis disebut bahwa untuk memajukan perusahaan, pegawai perusahaan juga diberikan kesempatan memiliki "share".

7. Alasan bahwa bentuk "Perum" bertentangan dengan misi pendidikan tinggi yang tercakup dalam Tri Dharma PT adalah alasan yang dangkal. Misi PT berbentuk perusahaan adalah: Learn it! (Dharma Pendidikan), Think it! (Dharma Penelitian), Give it! (Dharma Pengabdian Masyarakat).

Lalu, masyarakat akan memberikan "reward". Konsekuensinya, siklus Learn it - Think It - Give it terjadi. Dan, ini dapat dilakukan secara amat efisien.

Contoh Kasus (bikinan! :=)) : Bagaimana kita yakin kalau Kota Yogyakarta itu adalah Kota Pelajar, gudangnya orang pintar? Posisi UGM saat ini membuat hanya UGM yang "pintar", sementara PT yang lainnya "bego-bego".

Keadaan ini menempatkan sebagian besar alumni UGM juga "bego", sebab sebagian alumni UGM banyak mendirikan PT di Yogya, bahkan lembaga-lembaga kursus dan bimbingan test. Kalau lulusan UGM pintar-pintar, maka perguruan tinggi yang dikelolanya pun mestinya menghasilkan lulusan pintar.

Bukan soal "bibit"-nya (mahasiswa PTS) yang "bego", tapi karena "orang bego" ketemu "orang bego". Coba kalau "orang bego" ketemu "orang pintar", saya optimis, yang bego tambah pintar, sementara yang pintar makin pintar karena nggak mau dibilang tambah bego! :-) Kalau situasi ini tidak disadari, dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan ikhtiar untuk memperbaiki tidak ada maka UGM dengan amat meyakinkan akan mengalami degradasi di segala bidang.

Bagaimana caranya? Get the autonomy as a right, and then behave on this platform correctly! Bagaimana caranya? Belajarlah menjadi enterpreneur. Saya pikir para "kyai" di Program MBA UGM adalah "resource" UGM yang amat berharga. Instead of, UGM bangga dengan kredibilitas mereka memberikan kuliah "wah" setingkat MBA pun menjadi konsultan bisnis, mungkin UGM bisa memaksimalkan performanya kalau kemampuan mereka digunakan.

Begitulah kira-kira pendapat saya. Ide ini mungkin "nyeleneh", as usual. (You know my type!:=)) Tapi, saya yakin, hanya orang-orang yang mampu memahami konsep: "Learn It, Think It and Give It", yang akan mampu berprilaku "brilian" dan menganggap ide ini "tidak nyeleneh". Orang brilian sendiri tidak harus "cum laude" dari UGM. Mereka adalah "just ordinary people with strong commitment to their will".

Nah karena saya menggunakan kata "mungkin nyeleneh", maka saya "belum" bisa berlaku "brilian". Mungkin besok, ketika saya bangun tidur. Saya akan bernyanyi :

Bangun tidur ku terus ngopi....
Tidak lupa mengambil gitar....
Habis nggitar, kopinya dingin....
Nggak jadi ngopi,.....
Bikin kopi baru....

Maklum, mas...... belum bisa sangkil dan mangkus. :=) Ciao....

Diposting di milis UGM-Club pada 31 Maret 1999

Tidak ada komentar: